Posts

Kenapa Seks Tabu? | #bookreview38

Image
  Judul: Sebab Kita Semua Gila Seks Penulis: Ester Pandiangan Penerbit: EABooks Tahun terbit: 2021 Ketebalan: 2016 halaman ISBN: 978-623-94979-7-2   Kenapa kita justru lebih akrab dengan istilah oral sex , sepong, blowjob , masturbasi, atau threesome ketimbang herpes simplex atau smegma? Bisa jadi karena kita kelewat menikmati seks ketimbang memaknainya. Kita melakukan seks tapi menabukannya. Perbincangan perihal seks selalu dibalut dengan teks-teks kitab suci atau norma adat yang terkadang membuat kita gagal mendapatkan pengetahuan seks secara maksimal. Kita jadi lebih mengenal seks sebagai peristiwa pemuasan nafsu belaka, bukan lagi peristiwa biologis nan sakral yang tanpanya umat manusia tak mungkin melanjutkan kehidupan. Baca juga:  Le Petit Prince | #bookreview37 Sebaiknya kita menormalkan perbincangan mengenai seks sebagaimana pembicaraan mengenai kopi, rokok, dan obrolan-obrolan ringan lainnya. Sebab seks bukan sekadar pertemuan kelamin, melainkan juga hubungan ant...

Le Petit Prince | #bookreview37

Image
  Judul: Le Petit Prince (Pangeran Cilik) Penulis: Antoine De Saint-Exupery Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 1943, oleh Gramedia 2011 ISBN: 9786020323411 Ketebalan: 120 halaman   Pangeran Cilik termasuk buku yang paling banyak diterjemahkan di dunia. Konon pernah disadur ke dalam 230 bahasa asing. Buku ini memang luar biasa. Tampaknya seolah cerita anak-anak, tapi sebenarnya dinikmati dan direnungkan juga oleh orang dewasa. Lewat cerita seorang anak yang mengamati dunia dengan mata naif dan lugu, Saint-Exupery menyentuh beberapa nilai dan pengalaman manusia yang paling dasar, seperti kekuasaan, tanggung jawab, dan cinta. Dongeng yang mengharukan sekaligus amat mendalam ini termasuk karya-karya agung sastra dunia yang tak terlupakan. ... Betul yang pernah dikatakan orang-orang, bahwa meski terlihat layaknya buku anak-anak, buku ini justru jauh lebih dewasa dari segi pemikirannya. Saat membaca buku ini, kita akan melewati banyak pembelajaran hidup yang baik. Kita akan melalui ce...

Si Anak Cahaya | #bookreview36

Image
Judul: Si Anak Cahaya Penulis: Tere Liye Penerbit: Republika Tahun terbit: 2018 ISBN: 978-602-5734-54-0 Ketebalan: 421 halaman   “Namau kau Nurmas, itu nama yang indah sekali. Nur itu cahaya, mas atau emas itu logam mulia yang berharga. Aku harap, suatu saat cahaya dan kemuliaan kau akan menyatu, berkilauan.” Buku ini tentang Nurmas, Si Anak Cahaya yang memiliki petualangan masa kecil yang penuh keceriaan dan menakjubkan. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Nurmas hingga penduduk seluruh kampung selalu mengingat kejadian yang membuatnya resmi dipanggil Si Anak Cahaya? Dari puluhan buku Tere Liye, serial buku ini adalah mahkotanya. … Baca review buku lainnya:  Crazy Rich Asians | #bookreview35 Sebagaimana buku-buku karya Tere Liye lainnya, buku ini pun sangat menakjubkan. Dan sebagaimana buku lainnya, aku seakan tidak bisa berhenti membaca buku ini hingga tiba di halaman akhir. Magical. Begitu aku bisa menyebut cerita dalam buku ini. Aku sudah membaca Serial Anak-Anak Mamak kary...

Pagi yang Debar, Summit yang Menyesakkan | #Sumbing5

Image
Baca cerita sebelumnya:   Bertemu Badai Luar Biasa di Camp Gajahan | #Sumbing4 Sabtu, 2 Oktober 2021   “Nikhen, Nikhen.” Sayup-sayup kudengar seseorang memanggil. Jam berapa ini? Siapa yang memanggil? Kubuka mataku pelan-pelan, memicing kena cahaya lampu tenda yang silau. “Nikhen. Kalian tidak jadi summit ? Ini sudah jam tiga.” Ternyata itu Kak Wanda di ujung sana. Di luar, badai masih terus berlangsung, mungkin tambah kencang, seperti tidak ada tanda-tanda untuk mereda. Aku hanya menggumam ke Kak Wanda. “Hmmm, masih badai, Kak.” Sahutku pelan sekali entah bisa didengar atau tidak. Kak Wanda tidak merespons. Aku lanjut tidur. “Kak Nikhen, summit, gak?” Entah sudah berapa lama aku tertidur lagi, sayup-sayu kudengar lagi suara memanggil namaku. Siapa lagi kali ini? “Hm?” Gumamku dari dalam tenda. Suara tadi dari luar, dan itu suara laki-laki. Berarti bukan antara Kak Wanda, Kak Tiara, atau Sekar yang membangunkanku. “Mau summit , gak, Kak? Jam lima, nih.” Hah? Aku kaget dan lang...

Bertemu Badai Luar Biasa di Camp Gajahan | #Sumbing4

Image
Baca cerita sebelumnya:  Perjalanan Panjang Jakarta--Wonosobo Untuk ke Kaki Gunung Sumbing | #Sumbing1 Jumat, 1 Oktober, 16.37 WIB Camp Gajahan sore itu awalnya nyaman dan tenang sekali. Matahari cukup terik menyapu kehidupan di bentangan tanah luas itu. Di depan sana, Gunung Sindoro mulai tampak, dibalut gumpalan awan. Kulepas carrier yang sudah menyiksa punggungku sejak pagi tadi, lalu kuregangkan badan. Niatku setelah itu adalah ingin duduk-duduk santai di depan hamparan awan, menikmati senja dengan segelas cokelat atau sekadar air putih dan camilan. Tapi itu sekadar niat saja. Karena demi melihat tenda yang belum terpasang semua padahal itu sudah mau jam 5 sore, akhirnya kutawarkan diri untuk memasang tenda. Baca cerita sebelumnya:  Memulai Pendakian, Lalu Terpaksa Melangkah Tanpa Sahabat | #Sumbing2 “Kama, tenda mana lagi yang harus dipasang? Dan dipasang sebelah mana?” Tanyaku ke Kama yang kulihat sedang linglung di satu sudut. “Hm?” Hanya begitu respons Kama atas pertay...