Pembantaian PKI di Indonesia 1965—1966 | #bookreview45
Judul: Pemantaian PKI di Jawa dan Bali 1965—1966
Kontributor: Cominos, Anthony; Foulcher, Keith; Iskandar, Maskun; Langenberg, Michael Van; Lasut, Jopie; Lucas, Anton; Orr, Keneth; Gie, Soe Hok; Young, Kenneth R.
Penulis: Robert Cribb
Penerbit: MATABANGSA
Tahun terbit: 2000
Ketebalan: xxxviii+395 halaman
ISBN: 979-9471-03-5
Penulisan buku ini bertujuan untuk mulai memetakan kembali arti penting pembantaian yang terjadi tahun 1965—1966 dalam sejarah Indonesia, yaitu dengan menyatukan apa yang sudah diketahui mengenai kejadian tersebut, dan dengan memahami arti pentingnya.
Tulisan ini bukan merupakan pernyataan final, tapi mungkin lebih merupakan langkah awal, karena analisis mengenai pembantaian merupakan sekumpulan masalah yang sangat rumit dalam sejarah Indonesia kontemporer, yang melibatkan berbagai masalah, yakni masalah informasi, filosofi, dan interpretasi. Tetapi dengan mengetengahkan persoalan-persoalan ini, paling tidak kita telah membuat suatu langkah ke depan untuk menyelesaikan masalah ini.
Baca book review serupa: Duka dari 1965
…
Peristiwa G30S 1965 secara faktual diikuti oleh pembunuhan massal di berbagai daerah Indonesia. Meski begitu, pembantaian ini nyaris tidak pernah disebut dalam buku pelajaran di sekolah semasa Orde Baru.
Buku ini merupakan hasil terjemahan dari karya Robert Cribb, The Indonesian Killings of 1965—1966: Studies from Java and Bali, Monash University, 1990, serta dari sebagian makalah pada konferensi tentang “Trauma 1965 di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Monash University pada tahun 1987, dan panel tetang pembantaian 1965—1966 di Canberra tahun 1988.
Meletusnya gerakan 1 Oktober 1965 menjadi klimaks dari kepengapan hidup selama bertahun-tahun sebelumnya dan memicu orang melakukan kekerasan di luar batas. Maka terjadilah kemudian pembantaian, paling banyak di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatra Utara. Di berbagai tempat terdapat indikasi bahwa pembantaian itu berlangsung setelah kedatangan pasukan tentara dari pusat ke daerah tersebut. Hancurkan PKI sampai ke akar-akarnya, memang telah menjadi komando bagi tentara di lapangan. Ini adalah tahun-tahun paling traumatik dalam sejarah Indonesia modern.
Buku ini terbagi dalam sebelas bab besar, yang masing-masing membahas satu pokok masalah berkaitan dengan kudeta 30 September 1965 yang gagal, dan kejadian-kejadian yang mengikuti setelahnya.
Bab 1 - Masalah-masalah dalam Penulisan Sejarah Pembantaian Massal di Indonesia (Robert Cribb), membahas tentang masalah pembantaian di Indonesia yang menimbulkan sekumpulan masalah rumit, di antaranya masalah informal, masalah filosofi, dan masalah interpretasi. Ditekankan dalam bab ini pula bahwa pembantaian massal yang dilakukan oleh para anti PKI ini masuk sebagai salah satu peringkat pembantaian terburuk abad ke-20, setara dengan pembantaian Nazi pada perang dunia kedua.
Bab 2 - Gestapu dan Kekuasaan Negara di Indonesia (Michael van Langenberg), berisi tentang proses peralihan kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru, tentang Supersemar, dan bagaimana kejamnya Orde Baru melakukan pembantaian demi mengamankan posisinya, agar masyarakat merasa bergantung pada militer. Dalam bab ini juga dibahas terkait pembentukan Komando Aksi Pengganyangan Gestapu (KAP-Gestapu), pembentukan Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) untuk mengganyang semua yang terlibat Gestapu, serta bagaimana pembasmian Gestapu di bawah pengawasan miiter. Di bab ini, akan terlihat jelas bagaimana Orde Baru melakukan banyak kebohongan besar.
Bab 3 - Pengaruh-pengaruh Lokal dan Nasional dalam Aksi Kekerasan Tahun 1965 (Kenneth R. Young), membahas tentang detail pembantaian di Kediri, serta sedikit menyentil pembantaian di Pasuruan, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sumba, Flores, dan Timor. Dalam bab ini terlihat jelas bagaimana konfrontasi PKI di tiap daerah. Di Sumatra Utara, yang berkonfrontasi dengan PKI adalah pihak tentara. Di Jawa Tengah, justru militer bersimpati kepada PKI. Di Bali, konfrontasi terjadi antara PKI dan PNI. Sementara di Jawa Timur yang terkenal sebagai daerah santri yang kuat, PKI berkonfrontasi dengan partai Islam atau organisasi Islam.
Selanjutnya dalam Bab 4 - Menciptakan Sejarah: Kesusastraan Indonesia Kontemporer dan Peristiwa-peristiwa 1965 (Keith Foulcher), dibahas tentang sastra kreatif Indonesia yang membahas sejarah, khususnya peristiwa 1965, di antaranya Anak Tanah Air karya Ajip Roshidi, Jentera Lepas karya Ashadi Siregar, Mencoba Tidak Menyerah karya Yudhistiro Ardi Noegraha, Kubah serta Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, dan Nyali karya Putu Wijaya. Penggunaan “sejarah” sebagai objek cerita kreatif benar-benar dikupas tuntas dalam bab ini.
Bab 5 - Aksi Kekerasan di Pedesaan Klaten dan Banyuwangi (Pusat Penelitian dan Studi Pedesaan dan Kawasan Universitas Gadjah Mada), membahas tentang aksi kekerasan di Klaten pada Februari sampai Juli 1964, serta Oktober sampai Desember 1964, yang fokus pada aksi penumpasan 7 setan desa. Dalam bab ini juga dibahas pembantaian di Banyuwangi, yang berfokus pada bagaimana perlawanan pemuda marhaen dan Ansor terhadap PKI, serta pembantaian yang terjadi di Cemetuk, sebuah desa basis PKI di Banyuwangi. Gelombang-gelombang pembantaian di Banyuwangi ini terlihat justru jauh sebelum kudeta 30 September 1965 yang gagal.
Baca book review lainnya: Jejak Langkah, karya Pramoedya Ananta Toer
Memasuki Bab 6 - Penumpasan G30S/PKI di Jawa Tengah (Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat), kita mulai akan menilik kisah-kisah tentang perebutan kembali kekuasaan komando militer di Jawa Tengah dari tangan PKI, yang dimulai pada 2 Oktober 1965 hingga 25 Desember 1965. Perebutan-perebutan kembali kekuasaan ini meliputi peristiwa pembebasan Semarang, petualangan di Yogyakarta, gerakan di Magelang, pembebasan di Boyolali, pengejaran di Wonogiri, pemogokan kerja di Solo, penangkapan di Klaten, hingga aksi-aksi di Purworejo dan Merbabu. Dalam bab ini juga dikisahkan tentang penangkapan D.N. Aidit pada November 1965, hingga bubarnya PKI pada 25 November 1965, yang sekaligus menjadi penanda berakhirnya gelombang kekuatan PKI di Jawa Tengah. Sebuah bab singkat yang penuh peristiwa panjang.
Bab 7 - Data Tambahan tentang Kekejaman Kontrarevolusioner di Indonesia dan Khususnya di Jawa Timur (Anonim), kita akan “menyaksikan” bagaimana pembunuhan-pembunuhan biadab itu dilakukan. Bab ini berisi pembunuhan kejam dan biadab di Lawang, Singosari, Tumpang, Jember, Nglegok, Garum, Gurah, Pare, Keras, hingga Banyuwangi, dalam rentang Desember 1965 sampai Januari 1966.
Melesat ke Bab 8 - Pendidikan dan Politik Desa di Jawa Tengah pada Masa Pergolakan (Kenneth Orr), kita akan menyaksikan bagaimana perkembangan pendidikan di Klaten dan sekitarnya, sebelum dan sesudah kudeta G30S. Kita juga akan melihat bagaimana kudeta tersebut memengaruhi dunia pendidikan, baik terhadap guru, siswa, maupun sekolah itu sendiri. Dalam bab ini kita dapat mengambil sebuah kesimpulan kecil, bahwa tiap pergolakan yang terjadi, meski awalnya hanya melibatkan segelintir orang dalam tampuk kekuasaan, efeknya tetap akan merajalela hingga ke berbagai sektor, pun hingga orang-orang di akar rumput.
Bab 9 - Peristiwa Pembantaian di Purwodadi (Maskun Iskandar dan Jopie Lasut), kita akan melihat bagaimana proses peliputan pembantaian di Purwodadi pada tahun 1968—1969, serta seperti apa penyangkalan pihak militer atas kejadian itu, demi untuk memberi keamanan pada pemerintah. Tak sampai di situ, dalam bab ini juga tersuguhkan fakta mengenai Operasi Blitar Selatan oleh PKI, yang ditumpas dengan Operasi Trisula oleh Angkatan Bersenjata pada 1968, penggolongan terhadap tahanan PKI, hingga tentang show pembunuhan massal. Sebuah kutipan terkait hal ini, “Apakah mungkin Komandan Koramilnya, Peltu Sutopo, sengaja mengadakan show pembunuhan massal yang sama sekali tidak pernah ada? Dan dengan demikian dia dan atasan-atasan PKI-nya bisa mendiskreditkan pemerintah di mata dunia internasional yang antifasis?” Kita tidak pernah tahu jawabannya.
Melaju ke Bab 10 - Bertahan Hidup: Kisah Bu Yeti (Anton Lucas), dengan hati yang teriris-iris kita akan “menyaksikan” kehidupan setelah kudeta 30 September 1965 yang gagal itu, tentang bagaimana istri dan anak-anak para tapol haurs mati-matian bertahan menjaga keutuhan keluarga, dan tentang kehidupan yang mengerikan di sel para tapol. Dalam bab ini juga disentil tentang bagaimana perlakukan orang-orang Islam yang tidak islami, serta bantuan baik yang diberikan oleh para pendeta dan Gereja Protestan. Kebencian terhadap Islam yang fanatik dan nirempati, begitu jelas terlihat dari tulisan di bab ini.
Dan bab terakhir, Bab 11 - Bali (Robert Cribb, Soe Hok Gie, dkk), berisi tentang pembantaian di Bali beserta pemicunya, antipati antara penganut HIndu dan PKI, bagaimana kuatnya spiritualitas masyarakat Bali hingga mengaitkan bencana meletusnya Gunung Agung dengan gerak politik Soekarno dan antek-anteknya, hingga bagaimana kepemilikan tanah (land reform) yang cukup memberi andil konflik kelas di Bali. Selain itu, dalam bab ini juga dibahas tentang Bali yang kembali masuk dalam wilayah Republik pada 1950 dan lalu menjadi provinsi delapan tahun setelahnya, tentang keberpihakan Soekarno pada Suteja, Puger, dan anak-anak didiknya di Bali, tentang pembantaian terhadap orang-orang Cina di Bali, hingga kelompok Ansor yang menyeberang dari Banyuwangi untuk melakukan pembantaian di Bali. Tak sampai di situ, perebutan kekuasaan antara Soekarno dan Soeharto, salah sasaran pembantaian, hingga pembersihan antek komunis dalam ABRI juga mewarnai bab yang menjadi penutup buku ini.
Buku ini menimbulkan rasa marah, jijik, sedih, kecewa, dan frustasi sekaligus. Bagaimana tidak? Dalam buku 395 halaman ini, pembantaian demi pembantaian sejak sebelum 1965 maupun bertahun-tahun setelahnya, digambarkan sedemikian rupa. Penyebab-penyebabnya, efek traumatisnya, semua digambarkan.
Saya pribadi mengambil sebuah kesimpulan bahwa pada kenyataannya, konflik-konflik dan pembantaian yang terjadi di sepanjang tahun-tahun kelam itu tidak semata-mata disebabkan oleh kudeta yang gagal pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965 kala itu. Lebih jauh daripada itu, konflik-konflik ini justru telah tersemai, bertunas, dan tumbuh sejak belasan tahun sebelumnya, oleh kegagalan land reform, oleh persinggungan agama, budaya, dan etnis, pun oleh persinggungan politik kedaerahan. Kudeta pada malam itu hanya menjadi titik balik, atau semacam sirene peringatan, bahwa telah tiba saatnya membalaskan dendam yang telah lama terpupuk itu. Akibatnya, rakyat chaos oleh dendam dan pembantaian. Apalagi, dengan jelas dikatakan dalam buku ini bahwa yang memantik pembantaian itu adalah pihak militer dan pemerintah itu sendiri. Mereka memantik, rakyat menyalakan apinya, dan meluap tak terkendali. Begitulah yang terjadi.
Saya ingin mengutip tulisan Soe Hok Gie di bab paling akhir buku ini, bahwa, “Seandainya pemerintah atau pejabat benar-benar mau mencegahnya, maka pembantaian-pembantaian itu tidak perlu terjadi. Tetapi para pejabat pemerintah benar-benar tidak melakukan apa-apa. Bahkan pada kenyataannya, merekalah yang mengawali pembantaian di beberapa daerah.” Dan begitulah kenyataannya. Buku ini menjadi bukti yang cukup eksplisit terkait hal itu.
Ada satu lagi kutipan yang cukup menyayat hati, diambil dari bab 11, tulisan Soe Hok Gie.
“Orang-orang yang ditangkap ingin dibunuh karena mereka tahu mereka hidup dalam hitungan hari. Mereka lebih suka dibunuh karena mereka takut disiksa atau dibunuh secara massal dengan cara yang sama sekali tidak dapat diterima oleh manusia normal yang mengaku percaya kepada Tuhan.”

Comments
Post a Comment