Duka Dari 1965 | #bookreview43
Judul: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun terbit: 2012
Ketebalan: 461 halaman
ISBN: 978-602-424-275-6
Paris, Mei 1968.
Ketika gerakan mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas Suryo, seorang eksil politik Indonesia, bertemu Vivienne Deveraux, mahasiswa yang ikut demonstrasi melawan Pemerintah Prancis. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya, ditangkap tentara dan dinyatakan tewas.
Di tengah kesibukan mengelola Restoran Tanah Air di Paris, Dimas bersama tiga kawannya--Nugroho, Tjai, dan Risjaf--terus-menerus dikejar rasa bersalah karena kawan-kawannya di Indonesia dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan peristiwa 30 September. Apalagi dia tidak bisa melupakan Surti Anandari--istri Hananto--yang bersama ketiga anaknya berbulan-bulan diinterogasi tentara.
Jakarta, Mei 1998.
Lintang Utara, putri Dimas dari perkawinan dengan Vivienne Deveraux, akhirnya berhasil memperoleh visa masuk Indonesia untuk merekam pengalaman keluarga korban tragedi 30 September sebagai tugas akhir kuliahnya. Apa yang terkuak oleh Lintang bukan sekadar masa lalu ayahnya dengan Surti Anandari, tetapi juga bagaiman sejarah paling berdarah di negerinya mempunyai kaitan dengan ayah dan kawan-kawan ayahnya. Bersama Segara Alam, putra Hananto, Lintang menjadi saksi mata apa yang kemudian menjadi kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia: kerusuhan Mei 1998 dan jatuhnya Presiden Indonesia yang sudah berkuasa selama 32 tahun.
Pulang adalah sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta, dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998.
…
Adalah duka yang kurasakan sepanjang membaca buku ini, terutama karena berbicara soal peristiwa 30 September 57 tahun yang lalu. Barangkali perasaan ini cukup subjektif karena aku secara pribadi merasa ada ikatan dengan tanggal 30 September. Itu adalah tanggal lahirku. Jadinya semacam ada sesuatu yang mendobrak-dobrak hatiku--sebuah emosi negatif tepatnya--setiap kali 30 September dilantangkan di sana-sini sepanjang cerita.
Leila Chudori menggunakan alur cerita maju mundur, dan senantiasa berusaha memunculkan ketokohan setiap tokohnya, tanpa luput. Aku bagai sedang membaca memoar panjang sebuah luka yang ditinggalkan oleh peristiwa 30 September 1965. Melalui buku ini, aku menemukan perspektif baru tentang peristiwa berdarah yang kerap diburamkan: perspektif korban, baik yang langsung maupun tidak langsung.
Baca review buku lainnya: Muslimah yang Diperdebatkan | #bookreview42
Seperti yang dikatakan Amarzan Loebis, seorang penyair dan redaktur senior Tempo, “Novel Pulang masuk ke dalam ikhtiar merawat ingatan tentang salah satu gempa politik terbesar di negeri ini.”
Dengan prolog yang bercerita tentang penangkapan seorang eksil politik yang sudah dicari selama tiga tahun sejak peristiwa September 1965, tentu kita akan tahu cerita ini akan menuju ke mana. Sebuah cerita panjang pengasingan demi pengasingan, interogasi yang tak berkesudahan, dan cap sebagai “pengkhianat” yang tak pernah lepas bahkan hingga 32 tahun kemudian.
Baca lagi: Crazy Rich Asians | #bookreview35
Dimas Suryo adalah kunci. Dia diiringi Risjaf, Nugroho, dan Tjai. Keempatnya menjadi tonggak utama cerita-cerita dan ingatan tentang Indonesia yang--meminjam istilah empat sejoli itu--hanya berhenti tok pada tahun ‘65 itu. Hanya sampai di situ, dan selebihnya cerita dan kabar tentang Indonesia menjadi begitu kabur karena mereka hanya bisa membacanya lewat surat-surat dan secuil berita CNN yang merasa berita tentang Indonesia tidak terlalu penting dan “menarik” untuk diberitakan panjang-panjang.
Lalu ada Lintang Utara, anak Dimas Suryo yang merupakan kunci selanjutnya. Tanpa Lintang, cerita dalam buku ini barangkali hanya akan berkutat dan berputar terus pada kenangan-kenangan yang ada dalam hati dan kepala empat sejoli tadi. Lintang bagai pembuka “gerbang ke Indonesia”. Melalui perantara Lintang, kita akan menyaksikan Indonesia 32 tahun setelah September 1965, saat Soeharto’s New Oder akhirnya tumbang.
Baca review lainnya: Kudasai | #bookreview34
Penuh luka, juga pembelajaran hidup yang baik. Leila Chudori juga sangat sering memunculkan ragam tokoh yang menjadi perwakilan dari penyair-penyair terbaik, seniman-seniman terbaik, penulis-penulis terbaik, filsuf-filsuf terbaik, hingga musisi-musisi terbaik di masanya. Rivai Apin, Ernest Hemingway, Simone de Beauvoir, Karl Marx, M. Natsir, Lord Byron, William Shakespeare, Keats, Leo Tolstoy, hingga Robert Frost.
Selain peristiwa besar yang dimulai pada malam 30 September 1965 dan pecah pada tanggal 1 Oktober, Leila Chudori juga kerap menyisipkan peristiwa-peristiwa sejarah lainnya sepanjang cerita. Peristiwa 17 Oktober 1952 saat moncong meriam diarahkan ke istana; Prancis Mei 1968; juga tentunya Indonesia Mei 1998.
Baca review buku lain: Lelaki Harimau | #bookreview30
Namun, tetap saja sejarah besar 30 September 1965--beserta cerita-cerita yang mengikutinya setelah itu--tetap menjadi “tokoh utama” dari seluruh peristiwa sejarah tersebut. Bagaimana peristiwa itu pecah lalu segala sesuatu yang dianggap kiri--meski tidak berafiliasi atau terlibat langsung dengan gerakan tersebut--juga ikut kena imbas, diinterogasi bahkan disetrum, hingga dikurung di tempat pengasingan. Anggota Partai Komunis, keluarga Partai Komunis, atau mereka yang “dianggap” simpatisan komunis diburu habis-habisan. Bukan hanya ditangkap, tapi terjadi eksekusi besar-besaran di seantero Indonesia. Merah bagi warga Indonesia saat itu berarti warna sungai dan darah yang mengalir sia-sia.
Sejarah--meski tak tertulis--membuktikan, untuk tiga tahun berikutnya setelah 1965, Indonesia memiliki beberapa tahap kekejian: perburuan, penunjukan nama, penggeledahan, penangkapan, penyiksaan, penembakan, dan pembantaian. Perang urat saraf antara pendukung “Dewan Revolusi” dan “Dewan Jenderal” juga pecah di mana-mana.
Baca juga: Jejak Langkah | #bookreview29
Namun, terlepas dari kisah-kisah sejarah yang memenuhi sepanjang cerita, Leila juga dengan sangat apik menonjolkan sastra kuliner dalam karyanya yang satu ini. Kita akan menemukan berbagai pembahasan tentang bumbu-bumbu khas Indonesia seperti kunyit, jahe, lengkuas, minyak jelantah, dan kawan-kawannya, juga berbagai penganan dan masakan khas Indonesia yang membuat buku ini terasa sangat Indonesia, padahal latarnya kebanyakan di Prancis.
Yang paling ajaib, Leila membuat si tokoh utama menjadi seseorang yang menggilai masakan, yang memperlakukan bumbu-bumbu dan bahan masakan seperti seorang pelukis memperlakukan warna-warni catnya ke kanvas, atau seperti seorang penyair memperlakukan kata-kata ke dalam tubuh puisinya. Hingga Ia pun disebut sebagai penyair dalam dunia kuliner Indonesia.
Baca lagi: Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi | #bookreview24
“.… Kita semua tahu apa saja yang diolah tangan Dimas akan keluar makanan yang luar biasa, seperti halnya kata-kata apa saja yang keluar dari mulutnya akan menjadi sebuah puisi.” Begitu kata sahabat-sahabat Dimas suatu ketika yang tertera di halaman 102.
Hal ini dibalas oleh Dimas di halaman 114, “Buat saya, memasak sebuah hidangan sama seriusnya seperti menciptakan sebuah puisi. Setiap huruf berloncatan mencari jodoh membentuk kata, setiap kata meliuk, melesat, dan mungkin saling bertabrakan dan rebutan mendapatkan jodoh untuk membentuk kalimat yang berisi sekaligus mempunyai daya puitik. Setiap jurus mempunyai ruh, mempunyai nyawa, dan memilih kehidupannya sendiri. Sama seperti bumbu-bumbu.”
Baca juga: Curcol Si Rantau Kacau | #bookreview17
Namun, di atas itu semua, pada intinya, kita akan menyaksikan berbagai peristiwa sejarah, dari sudut pandang para eksil politik Indonesia yang menetap di Paris, Prancis. Kita akan menyaksikan bagaimana sebuah tanah yang subur oleh begitu banyak tumbuh-tumbuhan, yang melahirkan aneka warna, bentuk, dan keimanan, tetapi malah menghantam warganya hanya karena perbedaan pemikiran. Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah aroma kesedihan yang sia-sia.

Comments
Post a Comment