Posts

Tulisan Seorang Guru, "Minggu Bersama Gie"

Image
Minggu Bersama Gie Jumat, 9 Oktober 2019 Waktu menunjukkan pukul 12.49 WITA. Terik di luar menelisik ventilasi kamar, memantulkan larik-larik cahaya di dinding ruangan kamarku yang bercat biru. Malas beranjak dan bergeliat, aku iseng memainkan gawai, mulai mengotak-atik galeri yang penuh tumpukan foto, lalu berujung melihat satu per satu status kawan-kawanku di WhatsApp. Gerak tanganku terhenti. Sebuah status menarik perhatianku. Itu status seseorang yang sejak lama telah kuanggap guru, seorang senior yang tak pernah lelah berbagi: Kama. Di statusnya itu, Kama mengunggah sebuah foto dengan latar makam -yang telah amat ku kenal, di dalamnya. Itu makam milik Soe Hok Gie, tokoh aktivis mahasiswa di tahun ’65-’66 yang sudah lama membuatku jatuh cinta sejak kali pertama membaca tulisan tentangnya. Kama juga sengaja benar turut mengambil gambar kakinya yang berada tepat di depan makam, seakan ingin menegaskan keberadaannya di sana. Ah.. makam itu.. aku juga ingin ke sa...

Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya | #bookreview9

Image
Rusdi Mathari - Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya Judul : Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya Penulis : Rusdi Mathari Penerbit : Buku Mojok Tahun terbit : 2016 Ketebalan : xvii+226 hlm. ISBN : 978-602-1318-40-9 Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya - Kisah Sufi Dari Madura. Buku ini mulanya adalah tulisan berseri selama dua tahun di situs web Mojok.co . Sejak kali pertama tayang, kisah sufi dari Madura bernama Cak Dlahom ini segera digemari. Dibaca lebih dari setengah juta pemirsa Mojok.co .                                       • • • "Jangan Percaya Dengan Cak Rusdi". Hal itu yang pertama kali kutemukan dalam buku ini, setelah rentetan daftar isi buku yang kurang lebih ada 30 bab. Aku bingung. Haruskah aku mengikuti saran yang dikemukakan Mahfud Ikhwan tersebut, tapi juga tet...

Politik Kuasa Media | #bookreview8

Image
Noam Chomsky - Politik Kuasa Media Judul : Politik Kuasa Media Penulis : Noam Chomsky Penerjemah : Nurhady Sirimorok Penerbit : Penerbit Jalan Baru Tahun Terbit : 1997 (Oleh Pinus Book Publisher) Distribusi : Berdikari Book Ketebalan : x+51 halaman ISBN : 979-990-09-6-4 "Kita akhirnya menghamba sebagai negara pecinta uang, berharap pada negara lain yang akan membayar kita sebagai upah demi menghancurkan dunia. Itulah pilihannya." -Noam Chomsky Tidak ada yang meragukan kehebatan media dalam menggiring opini publik bahkan massa. Meskipun kita tahu bahwa kita tak akan mampu menanam padi di layar kaca kemudian memanennya, tapi kita tahu bahwa media berhasil membuat masyarakat bangkit dan bergerak, yang awalnya benci perang menjadi haus darah berkat apa yang dihidangkan media. Noam Chomsky, nama yang berhasil merebut perhatian masyarakat secara luas dengan kajian-kajian kontemporernya terlebih media. Bersama buku Politik Kuasa Media ini, kita akan diajaknya me...

Belajar Mencintai Kambing | #bookreview7

Image
Mahfud Ikhwan - Belajar Mencintai Kambing Judul : Belajar Mencintai Kambing Penulis : Mahfud Ikhwan  Penerbit : Mojok Tahun Terbit : 2016 Ketebalan : x+179 hlm ISBN : 978-602-1318-23-2 Belajar Mencintai Kambing merupakan kumpulan cerpen pertama Mahfud Ikhwan. Di dalamnya termuat empat belas cerpen yang kebanyakan mengambil latar desa. Suatu kawasan yang diakui oleh penulisnya ingin ia tinggalkan tapi secara diam-diam justru sering didatanginya. Orang-orang, dan kisah-kisah khas desa yang bersahaja, bahkan sering kali tidak masuk akal, dikisahkan secara apik dan tak berlebihan. Buku ini direkomendasikan untuk para penyuka sastra Indonesia dan Anda yang sedang belajar menulis cerpen.                                        • • • Aku sudah jatuh cinta dengan buku ini sejak selesai membaca "Moh. Anas Abdullah dan Mesin Ketiknya" -cerpen pertama yang Mahfud sajikan. Ce...

Percaya - Yang Kutahu Tentang Cinta | #bookreview6

Image
Diego Christian - Percaya Judul : Percaya Penulis : Diego Christian Penerbit : GagasMedia Tahun Terbit : 2012 Ketebalan : viii+232 hlm ISBN : 979-780-567-0 Semua orang punya cara tersendiri untuk melindungi orang yang disayanginya. Aku merasa harus mengerti hidupmu dari segala hal yang mungkin bisa membuatmu terluka. Seperti berada di akuarium bening, semua terlihat sempurna dan sederhana untukmu. Memang begitulah inginku: kau berbahagia, merasa memiliki dunia dalam genggamanmu. Tapi sekarang kau meminta aku jujur. Kau bilang, aku mengkhianati perasaanmu. Kau juga bilang, semua yang kulakukan selama ini menghancurkan hubungan kita. Dinding kaca itu pun hancur berkeping-keping, menyisakan beling yang melukai kaki kita. Tak ada lagi yang tersisa, kecuali bibirmu yang gemetar saat berusaha terlihat tegas di hadapanku. Aku ingin menangis, tetapi air mataku menolak keluar. Bagaimana caraku mengatakan yang sebenarnya? Bagaimana caraku membuatmu percaya: justru karena menya...

86 | #bookreview5

Image
Okky Madasari - 86 Judul : 86 Penulis : Okky Madasari Penerbit : PT Gramedia Pustaka utama Tahun Terbit : 2011 Ketebalan : 256 hlm ISBN : 978-979-22-6769-3 Apa yang bisa dibanggakan dari pegawai rendahan di pengadilan? Gaji bulanan, baju seragam, atau uang pensiunan? Arimbi, juru ketik di pengadilan negeri, menjadi sumber kebanggaan bagi orangtua dan orang-orang di desanya. Bekerja memakai seragam tiap hari, setiap bulan mendapat gaji, dan mendapat uang pensiun saat tua nanti. Arimbi juga menjadi tumpuan harapan, tempat banyak orang menitipkan pesan dan keinginan. Bagi mereka, tak ada yang tak bisa dilakukan oleh pegawai pengadilan. Dari pegawai lugu yang tak banyak tahu, Arimbi ikut menjadi bagian orang-orang yang tak lagi punya malu. Tak ada yang tak benar kalau sudah dilakukan banyak orang. Tak ada lagi yang harus ditakutkan kalau semua orang sudah menganggap sebuah kewajaran. Pokoknya, 86!                     ...

Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan | #bookreview4

Image
Ihsan Abdul Quddus - Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan Judul : Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan Penulis : Ihsan Abdul Quddus Penerbit : Pustaka Alvabet Tahun Terbit : 2012 Ketebalan : 221 hlm ISBN : 978-602-9193-16-9 Kisah tentang perempuan yang telah menggapai ambisinya. Sebagai politisi sukses, kiprahnya di parlemen dan pelbagai organisasi pergerakan perempuan menempatkan dirinya dalam lingkar elit kekuasaan. Latar belakang politik yang masih konservatif kala itu menjadikannya fenomena baru dalam isu kesadaran jender. Tetapi, kehampaan menyelimuti kehidupan pribadinya dan hampir membuat jiwanya tercerabut. Masalah demi masalah mendera, bahkan anak semata wayangnya yang dia anggap sebagai harta paling berharga justru lebih akrab dengan sang ibu tiri. Hingga suatu kala, ia memutuskan lari dari kehidupan pribadinya, bahkan berusaha lari dari tabiat perempuannya. Pada usia lima puluh lima tahun, ia membunuh kebahagiaannya sebagai perempuan. Ia melakukan apa saja untuk melupakan ...